Minggu, 15 Mei 2011

Tanpa -Diri-Mu


Ku membacamu dari awal
Berawal dari mimpi-mimpi dalam durasi waktu
Berlalu dalam pekat hening malam
kabut-kabut merengkuh sukma menjadi tak pernah berdaya
jembatan itu selalu simpang siur melangkah di saat kau tersenyum

satu waktu



..... untukmu

Satu tahun setengah dan seterusnya
Perjalanan cinta kita hanya mengeram
Dalam perahu tersenyum bersama mimpi

Hanya senyum bekal yang kau bawa
Berkeliling mengitari dunia jagat raya
Tak ada pelabuhan untuk berlabuh
Kecuali di antara hidup dan mati

Matahari tak perlu berpura-pura
Mewarnai kanvas dengan senyumnya yang durjana
Jika memang kau mengindap gerhana
Lebih baik berterus terang untuk kuncup mawar
besok yang akan merekah di ujung mentari

sebagai bekal untuk perjalanan
cintaku yang terapung
di atas senyummu dan sebaris puisi


 15 februari 2010


nyo'-nyok


pahit empedu menyusup pada kesunyian
malam,kepala melongoh paku tertancap
Jidat,berdenting ringik tangis
menjadi ranting dalam hatiku,

senyum sekilas tak pernah pupus berganti
keranda kelabu,senyap hingga hitam
terpatri nyanyian terpelanting dalam loket

rasanya aku ingin menjilat
rasa manisnya madu
burung perkutut membuntutiku
dalam sepi


22 januari 2010

simpang tiga


di simpang tiga
 aku mencari jejak langkah
kompas tanpa jarum petunjuk arah selalu berputar
tanpa henti,hanya suara gadis kecil telanjang yang bernyanyi
sambil berlari-lari membawa mainan baru
yang di proleh dari

lorong aspal keras dan panas
menjelma bibirmu yang merah
termometer hilang merah raksa
bergumam dalam hati ku
mengenggam arah menapaki surga
dan terbias bahagia dalam hati

aku mencari tujuan untuk ku tempuh
sampai  sendi dan otot-ototku
kaku dipersimpangan tiga



20 januari 2010

LELAH;aku menanti-MU


Lelah bukan saja berjalan mendaki gunung yang tinggi menjulang. dan
Sakit bukan hanya terluka tertusuk oleh duri sembilu. namun,bisakah perasaan ini di bandingkan  dengan penderitaan keduanya. kalau di setiap waktuku bayanganmu kambuh menjadi penyakit pengganti penyakit kronisku di setiap musim ini pedihnya tak terbaca oleh scanner kata-kata. jujur harus berapa lama lagi aku harus mendekam dalAm kesendirian seperti ini,di buru oleh perasaanku sendiri

Hidupku hanya menghibur impian semu untuk  menjadi peredam dalam keresahan,waktu begitu menyakitkan bila perasaan ini harus dirimu yang selalu hadir dalam kesendirianku hadirnya bayanganmu bukan lagi menjadi senyumanku namun pendderitaan yang meneteskan air  mata.

ULANG TAHUN


hari  ini  angin  terbang  membawa  sisa-sisa  air  hujan
lanskap ladang-ladang  dan dedaunan
 hijau  tersirat  pada bunga merah
 mawar sama seperti  bibirmu
hari ini ulang  tahun akan di rayakan bersama pesta 
sementara  langit  kelam dan perahu
ternyata masih ada di pusaran laut tak tahu arah kemana

tap I pesta akan tetap meriah
meski tanpa biola dan musik-musik yang lain menghibur
karena kuharap nostalgia menjadi darahku

selamat  ulang  tahun……sayang
hari ini ulang  tahun  kekasihku dan 

di atas meja masih tersisa tersisa seberkas senyummu
selamat ulang tahun

INGAT KEMAREN


Sangat lunak dan  terasa halus  ku bayang kan
Kisah-kisah yang menderitkan persebakuan kisah farel dan rahel di masa kecilnya bersama  basket dan gerimis lalu bermain dalam hujan
Tapi ini bukan qasy dan layla
Yang menjadi imam dalam persaksian cinta di jagat raya
Tapi yang  kuharapkan adalah kaum ansor dan muhajirin,kasih sayang.
Ya,….kasih sayang  yang begitu sangat implementasi dalam solidaritasnya hal itu yang  kurasa sehingga berlinangan air mataku
Sampai menjadi gerimis  tempat kau  memasuki pesta yang  sangat mengesankan di almamater  al-hidayah
Sungguh masa lalu genangan kebahagiaan yang penuh  mimpi-mimpi di mala mini dan dengan itu aku sangat yakin dan percaya bahwa kau pasti bisa  meremajakan kembali apa yang telah menjadi masa lalu

Syahdu


Sudah sepantasnya gelora
yang  ada ini Menemukan  beduk yang  menggema berdawai pada saat
Mentari menguning  dan saat semuanya  telah   berlalu  dari pesta dan meratap pada kuncup
Bunga menengadah pada jagat
                Failina aku rindukanmu
                                Sayang kepadamu
                                                Tak bergairah  ini pasti karenamu
Gelombang  malam di lautan sana
Bergeming-geming terhembus angin  mozon
Kulitku merasakan dingin yang  sangat  dalam
 anganku  Menemukan  ujung  dalam perjalanannya
Berbicara padamu  melebihi tubuhku
Yang mengigil
Berapa kali atau kali-kali yang ke-seribu kali
Hembusan angin lembut membelai rambutmu dan
Burung dadas membawakan syair-syair  disaat
 cahaya menjilat pasir   di pantai gelora

                                                                                                                tapi
                                                                                aku terpelanting
                                                lalu         asmara mulai asing
bukan itu yang ku maksud                          
dan kau  anggap beringsut
                                                                                                                tapi rinduku yang kalang kabut

bragung  13 april 2010

Sabtu, 14 Mei 2011