Selasa, 15 Mei 2012

Jeda

Bila suatu saat kita berjumpa tanpa tanda tanya
Giliran bahasa yang bicara
Entah itu aku atau dia telah lupa
Dari sejak engkau tak pernah ada
Hingga banyak rupa dalam huru hara
Untukmu aku punya banyak waktu
Jadikanlah semua yang kau mau serdadu gagah di atas seluas tanah merah yaitu hanya kau satu
Lama rasanya kita sama-sama bergejolak dan menenteng kitab-kitab biru wasiat rindu
Yaitu kau dan aku yang selalu begitu
Keadilan datang bukan dari tuhanmu, tapi tuhanku.
dan bibirmu yang satu.
Bila aku rindu hanya wajahmu yang aku tahu
Lalu kapan kita berjumpa dengan tanda seru

Jumat, 27 April 2012

Syair asap dini hari


ada apa lagi dengan perasaan ini?
Hati ini gelisah siapa bisa biacara
Lalu  kini pengap dalam derita
Terlalu indah untuk ku ingat lagi
begitu perih untuk ku tinggal pergi
Lalu ada apa ini?
Aku rasa ini bukan hidup yang sesungguhnya kini terjadi
Logika pribadi terpingkal-pingkal
Untuk berlayar di cakrawala pori-pori
Ahhhh…cobalah mengerti…!
Bila saja air mata terkelupas dari permadani
Hingga aura muak pada goyang gergaji ibu pertiwi
Dan kau tak sadarkan diri
Apabila buih menghantam terlalu tinggi
melototi desah-desah krikil bugil di akhir kanvas tinta menyapi
Sampai jangan lagi ada nomer hapi
Terisi tapi tak pernah di hargai
Nomer yang anda tuju tidak aktif, cobalah sendiri lagi
atau mungkin takkan pernah lagi
waduh…..masih ada risau ceceran duri yang meresap
pada sendi-sendi dan aku tak peduli
yang penting aku bahagia 
dari valentine yang terlewati


aku dan rindu.
Langkah yang telah aku daki masih belum cukup tentang derita yang selama ini aku ratapi.
Bergeming dalam lingkaran sembilu tanpa ada air mata yang mengadu
Dan bekas irama yang syahdu kini telah terdegar bisu
Aroma desah gelombang merengek kesakitan pada lereng-lereng pasir basah.
Hingga deburan bayang-bayang mereka
Tak terucap dari ujung sana, sampai ke rimba paranoia
bahkan dongeng-dongeng menjerit dalam desir angin malam. Saat merpati putih mulai ingkar janji dalam menjalankan ekspedisi
Serpihan puing-puing reruntuhan janji berserakan. harus bicara apa, aku. Pada diriku ini?
Sebab aku hanyalah generasi letih, yang belum pernah melawan janji, apalagi merobek mimpi.
Lagu-lagu pilu terus bersenandung melankolia dari celah-celah bibir orang-orang yang tersiksa dan teraniaya.
Saat tubuh ini bereaksi dengan enam gairah, idealisme menerjang satelit palapa dengan keterbatasan bahasa yang susah payah.
Masikah Kau………
Terdiam di sisi dalam hembusan jaringan tawa-tawa yang nga-ngenin…..?