Jumat, 10 Februari 2012

Sendiri Tiada Henti


Ada apa dengan ke sendiriaanku?
Yang kaku kayak batu lalu tertimbun oleh butiran empedu
Apa bedanya aku dengan batu jika kesendirianku adalah pilu
aku hanya bisa membuat ornamen-ornamen debu yang tak pernah jadi
sekalipun menjelajahi gunung tinggi sampai hampir bunuh diri di luar  asas materi
Sayang-nya aku masih belum bisa buat puisi
karena ini sekedar inspirasi yang sumpah semua orang takkan mengerti
Aku ini adalah isi hati
Untuk orang-orang yang terkapar dalam realiatas musibah sepi
Guna apa aku menghafal Esensi dari sebuah eksistensi
Sementara diriku sendiri melayang dalam cakrawala emosi
Kibarkan bendera warna-warni Lalu katakan TIDAK pada sepi
Bukan pada Korupsi
Ingatkan aku sekali lagi
Pada Andi Nurpati yang taat budipekerti
selama aku hidup dan bertemu bidadari
Inilah aku mengurai ridha sang ilahi turun ke bumi
Tapi bisakah terbukti
Meski kutahu itu hanya sekedar mimpi dalam narasi

/Tak/Puto/Tangkel/
(ce’mola’ah)

Rabu, 01 Februari 2012

naskah Drama Realis

jelmaan
MUSAFIR CINTA



SCENE 1
Dirumah P. Bakri sedang asyik menikmati kopi
P. Bakri      ; izah…izah
Hafizah      ; ya pak (hafizah menjawab dari dalam kamar)
P. Bakri      ; sini lo nduk, bapak ada perlu sama kamu
Hafizah      ; (keluar dari kamar dan langsung duduk di dekat P. Bakri) ada apa sih pak, pagi-pagi udah penting banget, kayak presiden aja
P. Bakri      ; gini lo nduk, kamu sekarang kan udah kuliah, jadi disamping kamu belajar, kamu juga harus mencari pilihan hidup kamu, hitung-hitung demi menghemat waktu
Hafizah      ; pak, izah itu masih gak kepikiran sama itu, izah masih ingin fokus terhadap pelajaran
P. Bakri      ; loh, gak kepikiran gimana, kamu itu udah waktunya menentukan masa depan kamu. Atau, jangan-jangan kamu pasrah sama bapak ya, untuk mencarikan jodoh buat kamu
Hafizah      ; waduh, jangan pak, bapak tidak usah ikut campur masalah ini, izah bisa kok menentukan semuanya
P. Bakri      ; nah makanya, penetuannya dimulai dari sekarang. Lebih cepat lebih baik
Hafizah      ; baiklah kalau itu mau bapak, izah nurut, tapi ingat, do’akan izah, semoga izah mendapatkan yang pas buat izah dan juga buat bapak
P. Bakri      ; ooo…pasti, kamu tidak usah hawatir
SCENE 2
Bramantyo menghadap P. Kost di kantor
P. kost        ; (sedang mengutak-ngatik peralatan)
Bram          ; permisi pak, (menyapa dari pintu)
P. Kost       ; ya, ada yang bisa saya bantu
Bram          ; benar, disini menerima kost-san (masih tetap berdiri di pintu)
P. Kost       ; ya benar, silakan duduk mas
Bram          ; makasih (bram duduk dikursi di depan P. Kost)
P. Kost       ; dari mana ya mas?, kayaknya kelelahan
Bram          ; saya dari jember pak, nama saya Bramantyo tapi saya biasa dipanggil bram
P. Kost       ; dan mas kesini, mau ngekost kan?
Bram          ; ya iyalah pak. Emang itu tujuan saya
P. Kost       ; berapa lama anda akan ngekost di sini?
Bram          ; selamanya
P. Kost       ; apa? (terkejut) maksud mas…
Bram          ; saya kan kuliah di sini pak, jadi ga’ mungkin selama saya kuliah, saya ngalong dari jember, soalnya kejauhan
P. Kost       ; baik, tapi yang jelas anda harus tahu, di sini biaya perbulannya…..
Bram          ; masalah biaya, ga’ usah dibicarakan, saya tetap bayar berapapun aja (bram menyerahkan uang tunai) ini 9.000.000 sebagai uang muka dari saya
P. Kost       ; mas, ini kebanyakan, biasanya…
Bram          ; udahlah pak, itu belum seberapa dari saya
P. Kost       ; baik kalau begitu, sekarang anda langsung pergi ke kamar nomor 420, di sana ada dua teman anda yang bayarnya diatas rata-rata, dan ini bukti kontrakan anda (menyerahkan selembaran kertas)
Bram          ; (menerima pemberian p. kost) makasih pak, saya permisi dulu
P. Kost       ; ya…ya…silakan
SCENE 3
Di kamar kost nomor 420
Jerry           ; (duduk santai sambil memegang hp di tangan kirinya)
Jimmy         ; (tidur-tiduran sambil main laptopnya)
Jerry           ; jim, lho tau ga’?
Jimmy         ; soal apa?
Jerry           ; mahasiswa yang bernama bramantyo?, kayaknya, dia ga’ pernah masuk deh selama ini
Jimmy         ; itukan urusan dia, bukan urusan kita. Mungkin aja dia ga’ masuk karena takut sama kita
Jerry           ; lho bener jim, karena selam ini semua mahasiswa di kampus berada di bawah kekuasaan kita, jadi….
Bram          ; (tiba-tiba bram nyelonong tanpa permisi dan meletakkan tasnya sembarangan)
Jerry           ; (melirik bram) hei men, lho pikir kita ini siapa? Masuk kamar orang tanpa pamit, kayak ular kesurupan aja
Bram          ; (tidak menghiraukan pembicaraan jerry)
Jerry           ; (berdiri mendekati bram) dasar bocah tolol, lho denger omongan gua ga’?
Jimmy         ; (mendekati bram) hei men, gua lagi serius. Lho siapa dan dari mana?
Bram          ; (melemparkan kartu nama ke muka jimmy dan langsung pergi)
Jerry           ; kurang ajar ni anak, gua ajar baru tahu rasa lho
Jimmy         ; santai jer, (mengambil kartu yang dilemparkan oleh bram) ini kartu namanya, (sejenak membaca kartu itu) ooo….jadi dia yang namanya bramantyo, gua tahu sekarang.
Jerry           ; yang bener aja lho jim, coba gua lihat (melihat kartu nama milik bram) dasar bocah konyol, awas lho
Jimmy         ; kita tunggu dia di kampus
SCENE 4
Di rumah dukun
Dukun        ; (komat kamit membaca mantra) hom…belahom…pempa, orang kaya banyak dipuja meski serakah gampang jadi penguasa, orang miskin sering dicuekin meski jujur sulit jadi pemimpin
Agus           ; samporason bah (tengak tengok ke sekelilingnya)
Dukun        ; duduk. Isi buku tamu dulu
Agus           ; apa, isi buku tamu, emangnya ada bah?
Dukun        ; di depanmu itu apa, di isi yang lengkap, demi kelengkapan administrasi
Agus           ; (mengisi buku tamu)
Dukun        ; butuh mantra apa?
Agus           ; biasa bah, anak muda
Dukun        ; butuh mantra yang awet muda, atau yang awet tua?
Agus           ; bukan itu bah, maksud saya…..
Dukun        ; o…ya, saya mengerti, kamu butuh mantra untuk cari kerjaan kan?
Agus           ; saya ini masih kuliah bah
Dukun        ; berarti masih pacaran?
Agus           ; nah itu dia masalahnya bah, pacar saya ini tidak pernah menghiraukan cinta saya
Dukun        ; namanya siapa?
Agus           ; hafizah
Dukun        ; tempat tanggal lahir?
Agus           ; sumenep, 22 juni 1988
Dukun        ; alamat rumah
Agus           ; kota asmara jalan yang menuju ke kolam-kolam cinta
Dukun        ; alamat email?
Agus           ; izah@ctl_pamor.se.id
Dukun        ; makanan faforit?
Agus           ; mie goreng
Dukun        ; minuman faforit?
Agus           ; air mineral
Dukun        ; masih aktif kuliah?
Agus           ; masih bah
Dukun        ; orang yang paling dia cintai di kampusnya?
Agus           ; furqan
Dukun        ; interpretasi sementara mempunyai stagmen, secara logika kamu tidak bisa mendapatkan dia
Agus           ; loh, kok bisa bah?
Dukun        ; sesuai dengan fakta dan realita, saat ini dia masih mencintai si furqan
Agus           ; waduh, tolong saya bah, saya benar-benar mencintainya, ila yaumil qiyamah
Dukun        ; tenang, bah ini juga zon politicon, jadi kamu tidak perlu hawatir, bah pasti menolong kamu
Agus           ; caranya gimana bah?
Dukun        ; (menyerahkan selembaran kertas) baca mantra ini di depan hafizah
Agus           ; (menerimanya) makasih bah, kalau gitu saya permisi dulu ya bah
Dukun        ; jangan lupa, kalau sukses, uangnya dikirim ke rekening bah
Agus           ; baik bah, tenang aja (beranjak pergi)
Dukun        ; (tiba-tiba Hpnya berbunyi) halo, ya benar, saya sendiri, ada yang bisa saya bantu, o…masalah itu gampang, anda hanya tinggal menyiapkan administrasinya, sebentar lagi saya langsung berangkat.
SCENE 5
Pagi hari di kampus (ruang kelas)
Agus           ; (mendekati hafizah yang sedang duduk bersama diana) assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan selamat berjumpa lagi dengan saya, AGUS DE JONI TRALALA, seseorang yang mencintai hafizah dari sabang sampai merauke bahkan ila yaumil qiyamah, cintanya yang begitu indah, indahnya yang tidak bisa dibahasakan, hanya bisa menunggu jawaban. Semoga semuanya sesuai dengan yang saya harapkan. Akhirnya mohon maaf jika ada kesalahan, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. I Love U mendadak hafizah
Hafizah      ; (tanpa basa-basi langsung menampar agus) kurang ajar kamu, ga’ tau sopan santun
Jimmy         ; ha…ha…ha…(tertawa terbahak-bahak) agus…agus…ngerayu cewek kok kayak orang ceramah
Furqan        ; (tiba-tiba datang dan langsung menuju tempat duduk) assalamu’alikum
Hafizah      ; wa’alaikum salam (pergi mendekati furqan) eh, furqan, aku ada perlu sama kamu
Jerry           ; dasar sama-sama deso, pacaran norak banget
Bram          ; (bram berjalan dengan santai menuju tempat duduknya) semuanya norak
Jerry           ; heh…bram, jaga mulut lho
Jimmy         ; teman-teman, kita kedatangan teman baru di kelas ini, namanya bramantyo, rumahnya di jember, jauh, tapi kenapa ya, orang jember ko’ kuliahnya ke sumenep?
Jerry           ; jangan-jangan dia tidak diakui lagi oleh pemerintah jember, biasa gelandangan
Bram          ; hei…yang katro’ tu kalian, makanya sering-sering ngaca lah, biar ga’ kusut
Dosen         ; pagi anak-anak (tiba dari balik pintu)
PAGI PAK (semuanya duduk dengan rapi kecuali bram)
Dosen         ; hei..(menunjuk ke arah bram) kalau duduk yang sopan, sembarangan
Jerry           ; biasa pak, dia bukan orang sini, dia dari jember
Jimmy         ; termasuk orang yang ga’ tahu aturan
Dosen         ; cukup, tolong yang lainnya diam, apa benar kamu dari jember
Bram          ; (menganggukkan kepala)
Dosen         ; jadi, kamu bramantyo kan?
Jerry           ; benar pak, dia bramantyo, orang yang ga’ tahu aturan
Dosen         ; jerry (membentaknya) saya bilang diam
Bram          ; benar pak, nama saya bramantyo
Dosen         ; ya kalau begitu bapak ucapkan selamat datang di kampus ini, dan bapak minta maaf kalau fasilitasnya kurang memadai, maklumlah, disini kan sumenep, jadi beda jauh dengan di jember. Oiya…anak-anak, perlu diketahui oleh kalian, bram ini keponakan ketua yayasan di kampus ini, jadi kalian harus menghormatinya. Dan bapak juga minta maaf bram, kalau tingkah laku teman-teman kamu disini kurang pas buat kamu.
Bram          ; baik pak, hal itu bukan masalah bagi saya, biasa, mereka semua orang desa, jadi belum tahu banyak soal pergaulan,, taunya hanya nyamil kayak anak kecil
Jerry           ; bram (membentak)
Dosen         ; jerry, duduk kamu, sekali lagi kamu bicara, bapak akan mengeluarkan kamu dari ruangan ini. Baik, sekarang kita mulai materi. Materi kita saat ini adalah jasa raharja, yaitu mengenai tentang penggunaan lalu lintas. Anak-anak, sering kita temukan berbagai macam warna lampu di persimpangan jalan raya, dan lampu itu ada yang warnyanya merah, hijau dan kuning. Dan masing-masing lampu mempunyai pengertian yang berbeda. Kalau yang menyala lampu yang warna hijau, pengguna jalan raya bebas untuk berjalan, akan tetapi kalau yang menyala lampu yang berwarna kuning, pengguna jalan raya harus hati-hati, sedangkan kalau yang menyala lampu yang berwarna merah, itu berarti pengguna jalan raya harus berhenti. Tidak ada lain tujuan diadakannya lalu lintas macam ini, agar pengguna motor dan mobil harus waspada terhadap pejalan kaki, soalnya kalau pengguna motor dan mobil sampai menabrak pejalan kaki baik disengaja maupun tidak, dia harus membayar denda kurang lebih minimal 750.000.000
Mahasiswa ; huuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
Dosen         ; jadi, bagi kalian yang punya nenek sudah renta, kalainb gampang untuk mendapatkan uang, kalian tinggal lempar aja nenek kalian ke jalan raya, kalau nenek kalian tertabrak, maka kalian berhak minta ganti rugi 750.000.000
Alex           ; enak aja, kalau mau bapak yang akan saya lempar

DUB------BEL BERBUNYI

Mahasiswa ; waktunya cukup pak
Dosen         ; baik, waktunya sudah habis, terima kasih perhatiannya, wassalam (pergi meninggalkan ruangan)
SUASANA RIUH, SEBAGIAN MAHASISWA KELUAR
Jerry           ; bram, tunggu
Bram          ; (berhenti melangkah)
Jerry           ; heh, lho udah bikin gua malu di depan teman-teman tau
Jimmy         ; bram, gua ga’ akan pernah takut sama siapapun, termasuk lho, keponakan ketua yayasan, camkan itu baik-baik
Bram          ; (menodongkan pistol) heh bocah ingusan, lagian siapa yang nyuruh kalian takut sama gua, tidak ada kan?, tapi yang jelas, mulai saat ini, yang akan membuat peraturan di kampus ini adalah gua, termasuk peraturan untuk kalian berdua, dan siapa yang patuh, dia pasti selamat, dan bagi yang tidak, maka tidak ada pula kesempatan untuk menikmati hidup. Gimana?
Jer & Jim    ; (tolah-toleh ketakutan)
Bram          ; oke, kalau kalian sepakat sama tawaran gua, gua tunggu kalian di kantin
Jer & Jim    ; (berbisik)



SCENE 6

Di kantin
Diana          ; pak, mie gorengnya dua
P.Warung   ; ya neng, dibungkus apa makan sini?
Diana          ; makan sini aja pak, soalnya kalau dibungkus saya takut dirampok di tengah jalan
P.Warung   ; waduh, lagian siapa yang mau ngerampok mie goreng neng, ada-ada aja
Hafizah      ; diana, kenapa ya, minggu-minggu ini aku sering ingat si furqan
Diana          ; ketahuan lho ya, ternyata lho cinta ma furqan?
Hafizah      ; ssssttt (meletakkan jari di bibirnya) jangan keras-keras
P.Warung   ; (mengantarkan pesanan diana & hafizah) ini mie gorengnya neng
TIBA-TIBA BRAM DATANG. HAFIZAH & DIANA BERBISIK
Bram          ; heh, kalian ngomongin gua?
Diana          ; gr banget lho
Hafizah      ; (menampakkan wajahnya)lagu hafizah berdentum pelan-pelan
Bram          ; (terpesona melihat wajah hafizah)
SOUNDTRACK: NUMATA-PESONA
Bram          ; lho kuliah di sini kan?
Diana          ; ya, hafizah kuliah di sini, emangnya kenapa?
Bram          ; gua ga’ nanya’ ma lho, jadi lho diam
Hafizah      ; eh diana, kita pulang yuk, aku pusing banget nih (segera pergi dari hadapan bram)
P.Warung   ; bayarnya kapan neng
Diana          ; besok pak
Bram          ; hafizah
SOUNDTRACK: SEMBILAN BAND-HAFIZAH
TIBA-TIBA JERRY & JIMMY DATANG
Jerry           ; hei bram
Bram          ; oh kalian, gimana, sepakat dengan tawaran gua?
Jimmy         ; kasih kita kesempatan, gua mau yang sportif
Bram          ; jadi,
Jerry           ; bram, kalo lho bisa ngalahin kita, kita patuh ma lho, tapi lho yang kalah, lho harus keluar dai kampus ini. Gimana?
Bram          ; caranya?
Jimmy         ; kita balap liar

Mengharap Ilusi

PERJUANGAN

Mengharap Ilusi

Senyuman itu masih terlihat Romantis
Semanis lagu westlife yang menetes dari butir-butir embun pagi
Senandung lagu kian menggebu di sela-sela kabut tipis yang senada rindu
Desir lirih tiba-tiba menggeleda tubuhku dengan jalan-jalan buntu.
Aku hanya bisu dan tak tahu malu.
Bukankah dunia begitu luas untuk ku remas
dan meletakkannya dalam gelas yang rapuh
Harus aku katakan sejujurnya pada bandit-bandit
tentang desah asap kaku dari beranda ekstasi cinta
Q gapai cakrawala dengan rintihan Bla.. Bla.. yang tanpa biola
Tragedi memar menggelepar  merah dari jiwa yang meronta
Larut dalam amarah jeda dan penantian menggelora
Aku masih dalam jeratan tinta oleh tanda baca untuk sebuah masa
Akulah matahri yang menerangi hari-hari di balik kerudungmu yang suci.

Setulus Ibu kartini.

30/01/12____01/02/12